Dia terbangun dari tidurnya tepat pukul 8 pagi. Kali ini oleh suara berisiknya hentakan alat-alat pertukangan. Satu hal yang tidak habis-habis terpikir oleh Dia adalah Kenapa kuli-kuli itu tidak berpikir untuk kerja sambil bermain musik ritmik? Kan lumayan, nggak begitu ganggu telinga. Walaupun akhirnya Dia sadar bahwa dia terkena meracau-sindrom-bangun-tidur-tea-gening. Memang rata-rata orang bangun tidur selalu sensitif dan merasa benar - pokoknya orang lain yang salah.
Ternyata papan nama bertuliskan GOR MEKAR kembali dipasang. Spanduk TOTAL FUTSAL yang kemarin terpampang di tembok GOR pun sudah tidak ada. Dia masih heran sambil nongol di jendela kamarnya di lantai 2.
Setelah mata Dia melihat-lihat sekitar, dia melihat Kawan - teman sebelah rumahnya. Kawan terlihat senyum lebar, lebih terlihat seperti senyum kemenangan. Dia menaikkan sedikit alisnya, menanyakan pertanyaan yang sedah pasti Kawan mengerti. Kawan pun menjawab dengan anggukan kecil yang sudah pasti Dia pahami.
Akhir-akhir ini banyak GOR badminton yang dirubah menjadi lapangan futsal. Untung tidak yang ini. Terima kasih THOMAS dan UBER CUP, sehingga badminton ada dimana-mana lagi, di kota dan di desa lagi. Bukan saya membenci futsal, tapi harus ada keseimbangan. Batin Dia berkata sendiri.
Myrdal