Selasa
October 15, 2006
Selasa, 12 Septembar 2006
Siang itu memang panas seperti Mesir. Tapi tidak
menyurutkan semangat saya yang baru membeli roll film isi 36. Dan hasrat yang
luar biasa akan sebuah dokumentasi sosial. Entah kenapa saya merasa harus
meninggalkan motor saya, dan memulai marathon di Egypt
of Java ini.
“Yak, hari ini saya adalah pejalan kaki.” Saya
bergumam dalam hati.
Dengan kamera di tangan, hal yang benar-benar
menyegarkan semangat. Satu demi satu lorong-lorong jalan saya lewati, masih
hampa. Masih rabun tentang hal yang akan menjadi obyek foto saya hari ini.
Tidak terlalu banyak rencana dalam langkah-langkah saya. Saya tidak ingin
mencari komposisi gambar yang terlalu bagus, yang ingin saya dapat hari ini
adalah “moment”.
Beberapa langkah kedepan, seorang pria setengah baya, menyapa saya.
Suaranya terlalu kecil, sehingga saya harus mendekatkan telinga untuk dapat
menyimak kata-katanya lebih jelas.
“Dari mana?” Ambigu. Saya terlalu bingung dengan ucapannya.
“Apa, Pak?”
“Dari Malaysia ya?” Dijawabnya. Saya semakin bingung. Kenapa saya malah
disangka orang Malaysia. Hal pertama yang terpikir adalah mungkin karena saya
membawa kamera dan berjalan kaki saat itu, seperti turis (ya kalau dibilang
bule sih ga pantes, makanya dikira dari Malaysia).
“Sanes, Pa. Abdi mah ti dieu.” Jawab saya sambil melontar sedikit senyum
padanya. Setelah itu, pandangan saya tertuju pada sebuah peci yang
dipengangnya. Seperti difungsikan sebagai tempat menegadahkan uang. Saya pun
merogok saku, dan memberikannya sejumlah uang. Dia lalu pergi, saya sempat
melihat senyuman terakhirnya.
Entah kenapa, saat bapak itu berbalik badan, saya ingin sekali
memotretnya. Lucu juga, disangka orang Asing.
Myrdal
October 17th, 2006 at 8:56 pm
FoTOnYa,,,
BgUs jUgA,,,,
