Dia dan Surganya

October 15, 2006

 Surga
Benarkah
kita hidup di dunia ini hanya untuk mencari sebuah surga? Jika “YA”, maka dia
telah mengalahkan kita. Dia telah dapat surganya. Sebuah surga dunia, yang
tidak semua orang dapat memilikinya.

Orang
itu dengan surganya. Surga yang dia ciptakan sendiri, namun dia sangat puas dan
menikmati hal itu. Dia tidak butuh uang jutaan, kasur empuk, mobil mewah,
pendinging udara, atau hal-hal lain yang memang tak mungkin digapainya.
Sekarang hanya ini, hanya trotoar ini yang dia punya. Biarlah mobil-mobil itu berseliwera
disamping telinganya, dia takkan terusik. Hal itu bukan berisik baginya, bukan
gangguan. Dan juga teriknya sengatan matahari, tidak dihiraukannya. Dia tetap
menikmati surganya, surga yang dibangun dengan apa yang dia punya. Dia tidak
seperti orang-orang yang memimpikan surga, dia membuat sendiri surganya.

-Myrdal-

Selasa

October 15, 2006

Selasa, 12 Septembar 2006

               Siang itu memang panas seperti Mesir. Tapi tidak
menyurutkan semangat saya yang baru membeli roll film isi 36. Dan hasrat yang
luar biasa akan sebuah dokumentasi sosial. Entah kenapa saya merasa harus
meninggalkan motor saya, dan memulai marathon di EgyptSelasa of Java ini.

                “Yak, hari ini saya adalah pejalan kaki.” Saya
bergumam dalam hati.

Dengan kamera di tangan, hal yang benar-benar
menyegarkan semangat. Satu demi satu lorong-lorong jalan saya lewati, masih
hampa. Masih rabun tentang hal yang akan menjadi obyek foto saya hari ini.

Tidak terlalu banyak rencana dalam langkah-langkah saya. Saya tidak ingin
mencari komposisi gambar yang terlalu bagus, yang ingin saya dapat hari ini
adalah “moment”.

Beberapa langkah kedepan, seorang pria setengah baya, menyapa saya.
Suaranya terlalu kecil, sehingga saya harus mendekatkan telinga untuk dapat
menyimak kata-katanya lebih jelas.

“Dari mana?” Ambigu. Saya terlalu bingung dengan ucapannya.

“Apa, Pak?”

“Dari Malaysia ya?” Dijawabnya. Saya semakin bingung. Kenapa saya malah
disangka orang Malaysia. Hal pertama yang terpikir adalah mungkin karena saya
membawa kamera dan berjalan kaki saat itu, seperti turis (ya kalau dibilang
bule sih ga pantes, makanya dikira dari Malaysia).

“Sanes, Pa. Abdi mah ti dieu.” Jawab saya sambil melontar sedikit senyum
padanya. Setelah itu, pandangan saya tertuju pada sebuah peci yang
dipengangnya. Seperti difungsikan sebagai tempat menegadahkan uang. Saya pun
merogok saku, dan memberikannya sejumlah uang. Dia lalu pergi, saya sempat
melihat senyuman terakhirnya.

Entah kenapa, saat bapak itu berbalik badan, saya ingin sekali
memotretnya. Lucu juga, disangka orang Asing.

Myrdal